Filipina, tjahayatimoer.net - Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. mengatakan, para pemimpin negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyerukan penghentian permusuhan di Timur Tengah. ASEAN juga menyerukan, perdamaian tetap menjadi langkah utama untuk menyelesaikan konflik yang terus meningkat.


"Perdamaian. Perdamaian. Sesederhana itu. Perdamaian," kata Marcos dalam konferensi pers setelah KTT ASEAN ke-48, di Cebu, Filipina.


Marcos mengatakan, para menteri luar negeri (menlu) ASEAN sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan yang mendesak semua pihak untuk menghentikan permusuhan, membuka kembali Selat Hormuz, dan mengupayakan solusi diplomatik jangka panjang dengan melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.


"Itu adalah langkah pertama karena kita tidak akan mencapai apa pun sampai ada perdamaian," tambah Marcos.


Ia juga mengakui ada ketidakpastian menyelimuti konflik tersebut, dengan mengatakan ASEAN tetap khawatir atas kemungkinan pecahnya kembali pertempuran meskipun ada upaya gencatan senjata.


"Kita sekarang berada dalam situasi yang tidak pasti, di mana kita tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung. Kita tidak tahu kapan bentrokan berikutnya akan terjadi. Ini situasi yang sangat sulit. Jadi sekali lagi, sampai pertempuran berakhir, sampai pengeboman berhenti, maka akan sangat sulit untuk menyusun solusi apa pun. Itulah sebabnya seruan utamanya adalah perdamaian sekarang," tegas Marcos.


Para pemimpin negara Asia Tenggara juga mengadopsi Pernyataan Para Pemimpin ASEAN tentang Respons terhadap Krisis Timur Tengah, dengan menyatakan keprihatinan serius atas konflik yang berkembang cepat dan dampaknya terhadap perdagangan regional, keamanan energi, pasokan pangan, serta kesejahteraan warga negara ASEAN.


Pernyataan tersebut mendesak pihak-pihak yang terlibat untuk menahan diri, menghindari tindakan yang dapat memperburuk ketegangan, dan melanjutkan negosiasi menuju penyelesaian damai yang berkelanjutan.


Para pemimpin ASEAN juga menegaskan kembali pentingnya menjaga jalur pelayaran internasional tetap aman dan tidak terhambat, khususnya di Selat Hormuz, di tengah gangguan yang memengaruhi arus energi dan perdagangan global. (Red)