SAMARKAND, tjahayatimoer.net  – Suasana haru menyelimuti Kompleks Makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (7/2/2026). Isak tangis pecah ketika rombongan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, menuntaskan pembacaan Kitab Sahih Bukhari untuk ke-41 kalinya.

Momen tersebut menjadi sangat bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam hampir satu abad tradisi intelektual pesantren itu, pembacaan kitab hadis dilakukan langsung di kompleks makam penyusunnya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, ulama besar yang dikenal sebagai Amirul Mukminin fil Hadits.

Prosesi khataman dipimpin langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, KH Nurul Huda Djazuli. Ia didampingi putranya, Gus Kautsar, bersama 89 santri pilihan yang mengikuti rangkaian pembacaan kitab monumental berisi 7.563 hadis sahih tersebut.

Suasana menjadi hening ketika hadis terakhir dilantunkan. Para santri menyimak dengan mata berkaca-kaca. Jarak ribuan kilometer dari Kediri menuju Samarkand seakan melebur dalam satu ikatan keilmuan yang tak terputus oleh batas geografis.

“Ini adalah anugerah dan kehormatan yang tak terkira. Membaca kitab gurunya para ahli hadis di kompleks pusaranya, seolah kami menyambung rantai ilmu yang terpisah oleh jarak antarbangsa,” ujar KH Nurul Huda Djazuli dengan suara bergetar.

Tradisi khataman Sahih Bukhari di Pesantren Al Falah Ploso telah berlangsung turun-temurun sejak pondok berdiri pada 1925. Selama hampir satu abad, kitab tersebut menjadi ruh pendidikan pesantren dalam membentuk karakter dan kedalaman ilmu para santri.

Khataman di Samarkand menjadi babak baru dalam perjalanan tradisi itu. Selain bernilai spiritual, kegiatan ini juga membawa makna diplomasi kultural dan ilmiah antara Indonesia dan Uzbekistan.

Rombongan pesantren asal Jawa Timur tersebut disambut sejumlah pejabat dan tokoh Uzbekistan, di antaranya Penasihat Ketua Komite Wisata Uzbekistan Feruz Dodiev, Wakil Gubernur Samarkand Rustam Kabilov, Direktur Pusat Kajian Ilmiah Internasional Imam Bukhari Prof Shovosil Ziyodov, serta Duta Besar RI untuk Uzbekistan, Siti Ruhaini Dzuhayatin.

Prof Ziyodov menyebut kehadiran rombongan Al Falah Ploso sebagai tonggak baru persaudaraan ilmiah kedua negara.

“Kedatangan rombongan ini menunjukkan betapa kuat dan hidupnya tradisi keilmuan Imam Bukhari di Indonesia, serta eratnya hubungan ulama Uzbekistan dan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Feruz Dodiev menilai khataman tersebut sebagai peristiwa bersejarah menjelang peresmian kembali kompleks Imam Bukhari pada 2026, setelah lima tahun menjalani renovasi.

Di bawah langit Samarkand yang cerah, para santri menutup khataman dengan doa bersama. Sebuah catatan sejarah pun terukir: pesantren dari Jawa Timur menautkan kembali sanad ilmu hadis di tanah kelahiran sang imam besar, mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu ikatan spiritual yang melampaui zaman.