JAKARTA, tjahayatimoer.net– Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengungkapkan fakta mengejutkan di panggung dunia. Dalam pidatonya pada Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Prabowo menyebut hasil riset Universitas Harvard yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan masyarakat paling bahagia dan optimistis di dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat berbicara di hadapan para pemimpin dunia, ekonom global, dan tokoh internasional, Kamis (22/1/2026).
“Beberapa hari lalu saya terkejut. Gallup dan Harvard University melakukan survei terhadap ratusan negara dan menemukan bahwa Indonesia, masyarakat Indonesia, adalah orang-orang paling bahagia dan paling optimistis,” ujar Prabowo di forum bergengsi tersebut.
Riset yang dimaksud berjudul Global Flourishing Study, sebuah penelitian kolaborasi Universitas Harvard, Gallup, dan Center for Open Science, yang melibatkan 203.000 responden di 22 negara.
Penelitian ini tidak hanya mengukur kebahagiaan secara sempit, tetapi menggunakan indikator kesejahteraan menyeluruh (flourishing), meliputi kesehatan, kebahagiaan, makna hidup, karakter, hubungan sosial, ketahanan finansial, hingga aspek spiritualitas.
Hasilnya, Indonesia menempati peringkat pertama dunia dengan skor 8,3, mengungguli negara-negara maju. Posisi Indonesia diikuti oleh Israel (7,87), Filipina (7,71), Meksiko (7,64), dan Polandia (7,55).
Sebaliknya, Amerika Serikat hanya berada di peringkat ke-12, sementara Inggris terpuruk di posisi ke-20 dari 22 negara yang disurvei.
Temuan ini menegaskan bahwa kesejahteraan tidak identik dengan kekayaan ekonomi semata. Para peneliti menyoroti bahwa negara maju memang unggul dalam keamanan finansial, namun kerap tertinggal dalam aspek makna hidup, relasi sosial, dan karakter pro-sosial.
“Berkembang itu multidimensi. Banyak negara maju kuat secara ekonomi, tetapi lemah dalam hubungan sosial dan makna hidup,” tulis tim peneliti dalam laporan studi tersebut.
Indonesia dinilai unggul dalam hubungan sosial yang kuat dan karakter pro-sosial, dua faktor utama yang membangun rasa kebersamaan dan komunitas. Hal inilah yang menjadi pembeda signifikan dibanding negara-negara kaya.
Sebaliknya, Jepang tercatat sebagai negara dengan tingkat flourishing terendah dengan skor 5,89, meski dikenal sebagai negara maju dengan angka harapan hidup tinggi. Penelitian menemukan responden di Jepang paling jarang mengaku memiliki teman dekat, sebuah indikator penting kesejahteraan sosial.
Studi yang dimuat dalam jurnal Nature Mental Health ini juga menemukan bahwa tingkat kesejahteraan cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, serta menjadi pengingat bahwa negara berpenghasilan rendah hingga menengah seperti Indonesia justru mampu unggul dalam kualitas hidup secara menyeluruh.
Pernyataan Prabowo di WEF Davos sekaligus menjadi tamparan bagi anggapan lama bahwa kebahagiaan hanya lahir dari kemajuan ekonomi. Dunia kini menoleh pada Indonesia—sebuah negara berkembang yang berhasil menunjukkan bahwa kebahagiaan, solidaritas, dan optimisme adalah kekuatan sejati bangsa.

0 Komentar